Rabu, 30 April 2014

tugas 4 softskill bahasa indonesia

IGNATIUS BAGAS WIBISONO
19211143 / 3 EA17


TEORI PROPOSAL (ILMIAH DAN SEMI ILMIAH)

Definisi 
Proposal adalah rencana yang disusun secara sistematika dan terperinci untuk suatu kegiatan yang bersifat formal (Finoza, 1999 : 157).


Kerangka Proposal
Kerangka proposal adalah sebagai berikut :
1. Dasar Pemikiran. Dalam dasar pemikiran sebuah proposal dicantumkan pokok-pokok pemikiran perlunya melaksanakan kegiatan tertentu.
2. Jenis Kegiatan. Jenis kegiatan yang akan dilaksanakan harus dijelaskan dalam proposal.
3. Tema Kegiatan. Tema kegiatan dalam sebuah proposal berisi inti-inti kegiatan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
4. Tujuan Kegiatan. Tujuan kegiatan harus dijelaskan agar orang mengetahuinya. Penyusun proposal perlu merumuskan tujuan sedemikian rupa agar yang akan dicapai dapat diketahui dan dirasakan oleh pembaca proposal.
5. Peserta Kegiatan. Peserta kegiatan meliputi siapa serta berapa jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.
6. Waktu dan Tempat Pelaksanaan. Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan harus jelas dalam sebuah proposal.
7. Susunan Kepanitiaan. Para penyusun proposal dari suatu tim perlu menyelksi kualifikasi dan bobot orang-orang yang duduk sebagai panitia pelaksanaan dalam kegiatan yang direncanakannya. Hal ini untuk menjamin kelancaran jalannya suatu kegiatan.
8. Anggaran Biaya. Anggaran biaya dalam suatu proposal harus dicantumkan, tetapi penyusunannya harus logis dan realistis, serta harus memperhatikan keseimbangan antara pengeluaran dan penghasilan. Hal ini agar diterima secara logis oleh penyandang dana.
9. Acara Kegiatan. Jadwal atau acara kegiatan harus jelas dan terperinci. Dengan demikian, pada waktu nanti tidak terjadi hal-hal yang menyimpang dari acra yang sudah ditentukan. Hal ini juga bertujuan untuk mengefektifkan waktu selama kegiatan berlangsung.
10. Penutup. Penutup merupakan bagian akhir yang berfungsi menekankan bahwa proposal diajukan dengan sungguh-sungguh dan dijelaskan pentingnya kegiatan yang akan dilaksanakan. Hendaknya dalam bagian ini tergambar sikap optimis dari pembuat proposal.


Syarat Penyusunan Proposal 
Proposal yang kita susun perlu memiliki hal - hal berikut :
- Memiliki struktur dan logika yang jelas
- Hasil kegiatan itu terstruktur
- Rumuskanlah jenis kegiatan secara jelas, inovatif, terperinci, dan betul-betul dapat dikuasai atau dikerjakan
- Hubungan kegiatan dengan dana yang diperlukan harus rasional dan tidak mengada-ada


Fungsi Proposal
Proposal memiliki fungsi yang sangat penting bagi perseorangan atau lembaga yang akan melakukan usaha, program, atau kegiatan. Fungsi dari proposal adalah sebagai berikut :
- Fungsi proposal untuk melakukan penelitian yang berkenaan dengan agama, sosial,politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya.
- Fungsi proposal untuk mendirikan usaha kecil, menengah, atau besar.
- Fungsi proposal untuk mengajukan tender dari lembaga-lembaga pemerintah atau swasta.
- Fungsi proposal untuk mengajukan kredit kepada bank.
- Fungsi proposal untuk mengadakan acara seminar, diskusi, pelatihan, dan sebagainya.


Jenis Proposal
Ada banyak jenis proposal yang berkaitan dengan aktivitas manusia di kehidupan ini. Secara umum, berikut ini beberapa jenis proposal yang biasa dibuat dan diajukan banyak orang :
- Proposal bisnis, contohnya proposal pendirian usaha.
- Proposal proyek, contohnya proposal pengajuan dana kepada lembaga donor.
- Proposal penelitian, contohnya proposal skripsi, tesis, dan disertasi.
- Proposal kegiatan, contohnya proposal kegiatan seminar, pelatihan, dan lomba.


Proposal Ilmiah
Salah satu jenis tulisan ilmiah adalah proposal penelitian. Proposal penelitian biasanya dibuat untuk aplikasi permohonan bantuan dana penelitian dan untuk rancangan skripsi, tesis, dan disertasi.

Unsur-unsur yang dimuat dalam proposal ilmiah antara lain :
- lingkup masalah dan perumusan masalah
- aspek relevansi teori dengan permasalahan yang diketengahkan dalam penelitian
- metodologi penelitian
- instrumen penelitian
- teknik analisis data
- rencana kegiatan penelitian


Sistematika Proposal
Umumnya, proposal penelitian memuat hal-hal sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Identifikasi Masalah dan Batasan masalah
1.3. Rumusan Masalah
1.4. Tujuan Penelitian
1.5. Kegunaan Penelitian

BAB II Landasan Teori
2.1. Teori variabel (dependen , independen)
2.2. Penelitian relevan
2.3. Kerangka Berpikir
2.4. Hipotesis yang diajukan

BAB III Metodologi
3.1. Metode Penelitian (jenis penelitian)
3.2. Waktu dan tempat
3.3. Populasi dan sampel
3.4. Teknik Pengumpulan Data
        a. Jenis dan sumber data
        b. Instrumen
        c. Definisi Operasional (kisi-kisi)
3.5. Teknik Analisis data
3.6. Jadwal Penelitian


Proposal Semi Ilmiah
Semi ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah.
Artinya dapat dikatakan proposal semiformal dan nonformal merupakan variasi atau bentuk lain dari bentuk proposal formal karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak selengkap seperti proposal bentuk formal.



Daftar Pustaka :
Darmayanti, Nani dan Nurul Hidayati. 2008. “Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat Unggul (Kelas XII)”. Dalam http://books.google.co.id/books?id=rskNgi90QPIC&pg=PA21&dq=proposal+adalah&hl=en&sa=X&ei=JW9eU_XBGojQiAeqj4GACQ&redir_esc=y#v=onepage&q=proposal%20adalah&f=false

Hasim. 2012. “Mengenal Proposal”. Dalamhttp://hasim319.wordpress.com/2011/05/07/mengenal-proposal/

Hendry. 2010. “Menyusun Proposal Penelitian”. Dalamhttp://teorionline.wordpress.com/2010/01/23/menyusun-proposal-penelitian/

Pengertian Ahli. Tanpa Tahun. “Pengertian, Fungsi, Jenis Proposal”. Dalamhttp://www.pengertianahli.com/2013/10/pengertian-fungsi-jenis-proposal.html

Purbaya, Fredy. 2012. “Proposal dan Laporan”. Dalamhttp://fredypurbayadhyfha.wordpress.com/2012/05/04/proposal-dan-laporan/

Terbaru dan Terbaik. Tanpa Tahun. “Contoh Proposal Kegiatan Sistematika”. Dalamhttp://terbaru-terbaik.blogspot.com/2012/11/contoh-proposal-kegiatan-sistematika.html


tugas 3 softskill bahasa indonesia

IGNATIUS BAGAS WIBISONO
19211143 / 3 EA17


TEORI PERBEDAAN KARANGAN

Mengarang adalah usaha mengembangkan beberapa kalimat topik dengan bentuk paragraf. Dengan demikian, dalam karangan kita harus mengembangkan beberapa paragraf demi paragraf.


Pengertian karangan menurut para ahli :
1. E. Kosasih (2003 : 26), menjelaskan bahwa karangan adalah bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh. Karangan diartikan pula dengan rangkaian hasil pemikiran atau ungkapan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang teratur.
2. Widyamartajaya (1979 : 9) mengatakan bahwa Karangan itu merupakan ungkapan jiwa manusia yang hendak disampaikan kepada orang lain dan terjadi suatu proses berfikir. Kegiatan mengarang dapat terjadi karena ada maksud atau tujuan dari pengarang dengan melalui tahapan dalam pembuatannya.
3. Poerwordarmita (1984 : 445), mengungkapkan bahwa karangan merupakan uraian tentang sesuatu hasil, dengan demikian pengertian karangan atau tulisan dapat kita batasi sebagai rangkaian kalimat yang logis, padu, sistematis, yang berisi pengalaman, pikiran atau pelukisan tentang objek suatu peristiwa atau masalah.
Karangan adalah bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh. Karangan diartikan pula dengan rangkaian hasil pikiran atau ungkapan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang teratur.


Ciri-ciri karangan yang baik yakni :
1. Berisi hal-hal yang bermanfaat. Karangan yang bisa memenuhi kebutuhan pembaca akan dapat penghargaan masyarakat. Sangat mungkin karangan itu tidak begitu mendalam, tetapi memberikan manfaat langsung bagi pembaca.
2. Pengungkapan jelas. Pengungkapan yang jelas dapat ditandai dengan mudahnya sebuah karangan dicerna pembaca. Dengan pengungkapan yanh semakin jelas, sebuah tulisan akan semakin mudah diikuti.
3. Penciptaan kesatuan dan pengorganisasian. Karangan yang mampu menciptakan kesatuan dan sekaligus terorganisasi dengan baik ditandai oleh mudahnya pembaca memahami karangan. Sebaiknya karangan langsung menjelaskan inti permasalahan dan tidak berbelit-belit.
4. Efektif dan efisien. Yang dimaksud dengan efektif dan efisien  adalah pengungkapan suatu maksud dengan mengutamakan efisiensi dan efektifitas, yaitu dengan menggunakan kalimat dan kata-kata yang ringkas, namun dapat menjangkau makna yang luas.
5. Ketepataan penggunaan bahasa. Karangan yang baik juga ditentukan oleh penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa yang baik dan benar akan meningkatkan bobot karangan. Hal yang tercakup di dalamnya adalah kesanggupan pengarang untuk memenuhi berbagai kaidah berbahasa Indonesia secara tepat. Pembentukan kata, penyusunan kelompok kata, penyusunan kalimat, serta penguasaan ejaan dan tanda baca harus memadai.
6. Ada variasi kalimat. Variasi yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam karangan adalah penyusunan kalimat panjang dan pendek secara berselang-seling.
7. Vitalitas. Karangan yang baik biasanya penuh tenaga dan kaya dengan potensi. Kandungan kekuatan dalam karangan itu menjadikan pembaca merasa bahwa si penulis hadir di dalam karangan yang ditulisnya.
8. Cermat. Karangan yang baik memperahatikan masalah kecermatan. Hal-hal kecil, seperti titik dan koma tidak boleh dianggap sepele apalagi diabaikan. Kecermatan juga sangat diperlukan ketika memilih kata maupun menyusun kalimat.
9. Objektif. Mengarang adalah mengungkapkan sesuatu secara jujur, tidak dimuati emosi, dan realistis. Pengungkapan harus runtut dan teratur. Selain itu, uraian harus mencerminkan bahwa pengarang benar-benar menguasai dan menghayati permasalahan yang diuraikannya. 


Menulis Karangan
Sebelum menyusun sebuah karangan, beberapa langkah harus diikuti supaya tulisan kita menjadi sebuah karangan yang padu. Langkah-langkahnya adalah :
- Menentukan tema atau topik karangan
Tema atau topik merupakan gagasan pokok karangan yang menjadi inti karangan tersebut. Salah satu cara menentukan topik karangan adalah dengan mengamati keadaan di lingkungan sekitar kita. Kita dapat menentukan topik sesuai dengan pengalaman. Misalnya, pengalaman mengunjungi tempat wisata, jadi tentukanlah tema atau topik yang kita senangi dan pahami.
- Menulis butir-butir pokok karangan
Setelah tema ditemukan, barulah kita membuat butir-butir pokok permasalahan yang akan dikembangkan menjadi sebuah karangan. Butir-butir pokok sangat penting untuk membantu mengarahkan kita menyusun karangan. Tanpa butir-butir pokok ini, hasil karangan kita akan menjadi kurang baik.
- Membuat kerangka karangan
Buat kerangka karangan berdasarkan tema dan butir-butir pokok karangan yang telah dibuat. Kerangka karangan memudahkanmu menyusun sebuah karangan.


Jenis-Jenis Karangan
1. Berdasarkan teknik pemaparannya :
a. Narasi
Karangan narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi banyak kita temukan dalam novel, cerpen, atau hikayat.
b. Deskripsi
Karangan ini melukiskan apa yang terlihat di depan mata. Jadi, karangan ini bersifat tata ruang atau tata letak. Dengan kata lain, deskripsi berurusan dengan hal-hal kecil yang tertangkap oleh pancaindera.
c. Eksposisi
Karangan eksposisi adalah bentuk karangan yang memaparkan, memberi keterangan, menjelaskan,memberi informasi sejelas-jelasnya mengenai suatu hal.
d. Argumentasi
Karangan argumentasi adalah karangan yang isinya bertujuan meyakinkan atau mempengaruhi pembacaterhadap suatu masalah dengan mengemukakan alasan, bukti, dan contoh nyata.
e. Persuasi
Karangan persuasi adalah karangan yang tujuannya untuk membujuk pembaca agar mau mengikuti kemauan atau ide penulis disertai alasan bukti dan contoh konkrit.

2. Berdasarkan Sifatnya :
a. Ilmiah
Karangan ilmiah biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh sesorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat  keilmuan.
b. Semi ilmiah (Populer)
Sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan yang ditulis dengan bahasa konkrit dan formal, kata-katnya teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya.
c. Non-ilmiah
Karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang populer atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).



Daftar Pustaka
Anonim. 2013. “Jenis-Jenis Karangan Menurut Menurut Pengertian dan Ciri-Ciri Karangan”. Dalam http://semuapelajaransekolah.blogspot.com/2013/02/jenis-jenis-karangan-menurut-pengertian.html

Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2012. Bahasa Indonesia. Tangerang : Pustaka Mandiri.

Darmayanti, Nani dan Silvie Mariana. 2007. “Get Smart Bahasa Indonesia”. Dalamhttp://books.google.co.id/books?id=g-XXRx8USmwC&pg=PA2&dq=karangan+adalah&hl=en&sa=X&ei=ughZU7KNLsT-rAelkIBY&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

Homework Student. 2011. “Karangan yang Baik”. Dalam http://homework-student.blogspot.com/2011/02/karangan-yang-baik.html#rPD5s2Z4AvMKXDGp.99

Kurniawan, Gatot. Tanpa Tahun. “Karangan Imiah, Non-Ilmiah, dan Semi Ilmiah (Populer)”. Dalam http://gatotbukankaca.weebly.com/bahasa-indonesia-2-karangan-ilmiah-non-ilmiah-dan-ilmiah-populer.html

Marji. Tanpa Tahun. “Jenis Karangan”. Dalamhttp://pintarberbahasa.wordpress.com/jenis-karangan/

Putra, Hedi. 2013. “Pengertian dan Jenis-Jenis Karangan”. Dalamhttp://edukasi.kompasiana.com/2013/06/08/pengertian-dan-jenis-jenis-karangan-566867.html


Minggu, 30 Maret 2014

tugas 2 softskill bahasa indonesia

IGNATIUS BAGAS WIBISONO
19211143 / 3 EA17



TEORI-TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN METODE ILMIAH DAN SIKAP ILMIAH


Metode ilmiah bertujuan untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan sistematis. Terdapat beberapa pengertian metode ilmiah menurut para ahli :
- (Almack, 1939), metode ilmiah merupakan cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
- (Ostle, 1975), metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.

Tidak semua metode bisa dikatakan ilmiah, karena itulah suatu metode ilmiah harus memenuhi beberapa kriteria yang ditentukan. Kriteria yang harus digunakan dalam metode ilmiah, yaitu : berdasarkan fakta, bebas dari prasangka, menggunakan prinsip-prinsip analisis, perumusan masalah, menyusun hipotesis, menggunakan ukuran obyektif, menggunakan teknik kuantitatif dan atau kualitatif.

Adapun tahapan-tahapan dalam metode ilmiah, yaitu : memilih dan mendefinisikan masalah, survei data yang tersedia, merumuskan hipotesis (bila penelitian bertujuan menguji hipotesis), menyusun kerangka analisa dan alat-alat dalam menguji hipotesis, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisa serta membuat interpretasi, generalisasi dan membuat kesimpulan, membuat laporan penelitian.

Menurut KBBI, arti kata sikap merupakan perbuatan yang dilakukan berdasarkan pada pendirian atau keyakinan; perilaku; bertingkah laku. Sedangkan arti kata ilmiah adalah bersifat ilmu; memenuhi syarat ilmu pengetahuan. Jadi bisa disimpulkan bahwa sikap ilmiah merupakan perilaku yang dimiliki berdasarkan sifat keilmuanm ilmiah. Sikap ilmiah harus dimiliki oleh seorang ilmuwan atau akademisi dalam menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Sikap ilmiah dapat diinterpretasikan dalam berbagai forum ilmiah, misalnya diskusi, seminar, loka karya, dan penulisan karya ilmiah.

Menurut Allen Ledward, sikap ilmiah adalah “An attitude as degree of positive or negative affect associated with some pychological objects”. Yang artinya dimana sikap berkaitan dengan obyek yang disertai dengan persaan positif atau perasaan negatif, jadi sikap ilmiah adalah sikap keilmuan (scientific attitude).

Menurut Mukayat Brotowijoyo (1985: 31-34) siikap-sikap ilmiah yang digunakan dalam penyelesaian metode ilmiah adalah sebagai berikut :
- Sikap ingin tahu.
- Sikap jujur.
- Sikap terbuka.
- Sikap toleran.
- Sikap optimis.
- Sikap berani mempertahankan kebenaran.



DAFTAR PUSTAKA :

Ekim, Ezi. 2011. “Metode Ilmiah”. Dalam http://eziekim.wordpress.com/2011/03/14/metode-ilmiah/

Wiguna, Harits. 2011. “Bersikap Ilmiah”. Dalam http://www.slideshare.net/Harits_Wiguna/artikel-bersikap-ilmiah-harits-wiguna


Ardiwinata, Lisca. 2011. "Bersikap Ilmiah". Dalam http://www.slideshare.net/LiscaArdiwinata/bersikap-ilmiah

tugas 1 softskill bahasa indonesia

IGNATIUS BAGAS WIBISONO
19211143 / 3 EA17



TEORI-TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENALARAN


Penalaran memiliki kata dasar nalar, setiap manusia pun pasti memiliki nalar. Nalar bisa sangat berpengaruh untuk kita dalam melakukan sesuatu dan mengambil keputusan. Karena nalar tidak selalu benar, nalar pun pasti bisa salah. Dalam penjelasan penalaran adalah proses berpikir sistematis yang bertujuan untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan.

Penalaran berbeda dengan pengamatan, karena penalaran bisa menghasilkan konsep dan pemahaman. Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Ciri-ciri penalaran :
1. Dilakukan dengan sadar
2. Didasarkan atas sesuatu yang sudah diketahui
3. Sistematis
4. Terarah, bertujuan
5. Menghasilkan kesimpulan berupa pengetahuan, keputusan atau sikap yang baru
6. Sadar tujuan
7. Premis berupa pengalaman atau pengetahuan, bahkan teori yang telah diperoleh
8. Pola pemikiran tertentu
9. Sifat empiris rasional

Beberapa teori-teori penalaran menurut para ahli :
1. Bakry (1986:1) menyatakan bahwa penalaran atau reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
2. Suriasumantri (2001:42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.
3. Keraf (1985:5) berpendapat bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penalaran merupakan proses berpikir manusia untuk menguhubungkan fakta-fakta atau data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan.  Dengan kata lain, penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulan yang logis.



Daftar Pustaka

Rakhmawati, Lestari. 2013. “Definisi dan Penalaran”. Dalam http://tarirl.wordpress.com/2013/05/16/definisi-dan-penalaran/

@kartikaagustina. 2009. “Pengertian Penalaran”. Dalam  http://kartikagustina.blogspot.com/2013/04/pengertian-penalaran.html


Wikipedia. 2010. “Pengertian Penalaran”. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

tulisan 2 softskill bahasa indonesia

IGNATIUS BAGAS WIBISONO
19211143 / 3 EA17


PEMAKAIAN METODE ILMIAH UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN-PERTANYAAN ILMIAH


Di kalangan umum, metode biasa digunakan dalam hal-hal yang bersifat resmi. Umumnya banyak sinonim dari metode, seperti cara ataupun sistem, itulah yang sebagian besar masyarakat ketahui. Secara lebih detail, metode itu sendiri merupakan suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang terdiri dari langkah-langkah sistematis. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan dan informasi secara ilmiah.

Langkah-langkah tersebut adalah identifikasi masalah, kerangka berfikir, hipotesis, desain pengujian hipotesis, desain pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan.

Menurut Suriasumantri (1991), langkah-langkah dalam metode ilmiah tersebut adalah perumusan masalah, penyusunan kerangka berfikir, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Langkah-langkah dalam metode ilmiah menunjukkan cara berpikir ilmiah yang mencakup penalaran deduksi dan induksi.

Tujuan metode ilmiah itu sendiri adalah mendapatkan pengetahuan ilmiah yang bisa dipertanggungjwabkan. Secara luas tujuan metode ilmiah yaitu mendapatkan pengetahuan ilmiah, pencarian terhadap kebenaran yang diperoleh dari pemikiran logis, dan untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan data yang relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan penarikan kesimpulan.



Daftar Pustaka

E-learning gunadarma. 2011. ”Proses Penelitian Ilmiah”. Dalam http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/risetbisnis_pdf/04_bab_2_penelitian.pdf


girlycious09’s. 2012. “Metode Ilmiah”. Dalam http://girlycious09.wordpress.com/tag/tujuan-metode-ilmiah/

tulisan 1 softskill bahasa indonesia

IGNATIUS BAGAS WIBISONO
19211143 / 3 EA17


KONSEP PENALARAN ILMIAH DALAM KAITAN DENGAN PI


Setiap orang pasti pernah berbicara mengenai konsep, tapi sebagian besar belum megetahui sebenarnya apakah konsep itu secara harafiah. Konsep itu merupakan sekumpulan arti atau karakteristisk yang berhubungan dengan kejadian, objek, kondisi, atau situasi.(Emory dan Cooper). Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, konsep juga dibutuhkan dalam penelitian untuk memahami dan mengkomunikasikan informasi mengenai suatu objek.

Di dalam konsep terkandung batasan-batasan arti dari penamaan golongan, kategori dan klasifikasi. (Rusidi, 1997). Keberhasilan penelitian tergantung seberapa  jelas konseptualisasi dan seberapa jelas pihak lain memahami konsep yang kita gunakan.

Penalaran ilmiah memiliki konsep sebagai suatu proses untuk mencapai kebenaran ilmiah. 
Konsep dalam penalaran ilmiah memiliki 2 jenis metode dasar, yaitu :
a. Penalaran induktif
Penalaran yang bertolak dari penyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataaann-pernyataan yang ruang lingkupnya khas dan terbatas dalam menysusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
b. Penalaran deduktif
Penalaran deduktif adalah kegiatan cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan.



Daftar Pustaka

E-learning gunadarma. 2011. ”Proses Penelitian Ilmiah”. Dalam http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/risetbisnis_pdf/04_bab_2_penelitian.pdf


Ira. 2011. “Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif”. Dalam http://irabieber.wordpress.com/2011/10/26/penalaran-deduktif-dan-induktif/

Sabtu, 18 Januari 2014

tulisan 14 softskill perilaku konsumen

IGNATIUS BAGAS WIBISONO
19211143 / 3 EA17


KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN


Pendahuluan


Dalam mengenal konsumen kita perlu mempelajari perilaku konsumen sebagai perwujudan dari seluruh aktivitas jiwa manusia itu sendiri. Model perilaku konsumen dapat diartikan sebagai suatu skema atau kerangka kerja yang di sederhanakan untuk menggambarkan aktivitas-aktivitas konsumen.
Adapun yang mempengaruhi faktor-faktor perilaku konsumen antara lain, kekuatan social budaya terdiri dari factor budaya, tingkat social, kelompok anutan ( small reference groups) dan keluarga. Sedangkan kekuatan psikologis terdiri dari pengalaman belajar, kepribadian, sikap dan keyakinan.
Menganalisis perilaku konsumen akan berhasil apabila kita dapat memahami aspek-aspek psikologis manusia secara keseluruhan. Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.


Pembahasan

A. Struktur yang mencakup beberapa komponen dari kumpulan sejumlah keputusan konsumen
1.     Keputusan tentang jenis produk.
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah radio atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli radio serta alternatif lain yang mereka pertimbangkan.
2.    Keputusan tentang bentuk produk.
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli bentuk radio tertentu. Keputusan tersebut menyangkut pula ukuran, mutu suara, corak dan sebagainya. Dalam hal ini perusahaan harus melakukan riset pemasaran untuk mengetahui kesukaan konsumen tentang produk bersangkutan agar dapat memaksimalkan daya tarik merknya.
3.    Keputusan tentang merk
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merk mana yang akan dibeli. Setiap merk memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merk.
4.    Keputusan tentang penjualnya
Konsumen harus mengambil keputusan di mana radio tersebut akan dibeli, apakah pada toko serba ada, toko alat-alat listrik, toko khusus radio, atau toko lain. Dalam hal ini, produsen, pedagang besar, dan pengecer harus mengetahui bagaimana konsumen memilih penjual tertentu.
5.    Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari satu unit. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyak produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli.
6.    Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus melakukan pembelian. Masalah ini akan menyangkut tersedianya uang untuk membeli radio. Oleh karena itu perusahaan harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam penentuan waktu pembelian. Dengan demikian perusahaan dapat mengatur waktu produksi dan kegiatan pemasarannya.
7.    Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara pembayaran produk yang dibeli, apakah secara tunai atau dengan cicilan. Keputusan tersebut akan mempengaruhi keputusan tentang penjual dan jumlah pembeliannya. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui keinginan pembeli terhadap cara pembayarannya.

B.Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen
a. Kebudayaan.
Kebudayaan ini sifatnya sangat luas, dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Kebudayaan adalah simbul dan fakta yang kompleks, yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat yang ada.
b. Kelas sosial.
Pembagian masyarakat ke dalam golongan/ kelompok berdasarkan pertimbangan tertentu, misal tingkat pendapatan, macam perumahan, dan lokasi tempat tinggal.
c. Kelompok referensi kecil.
Kelompok ‘kecil’ di sekitar individu yang menjadi rujukan bagaimana seseorang harus bersikap dan bertingkah laku, termasuk dalam tingkah laku pembelian, misal kelompok keagamaan, kelompok kerja, kelompok pertemanan, dll.
d. Keluarga.
Lingkungan inti dimana seseorang hidup dan berkembang, terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dalam keluarga perlu dicermati pola perilaku pembelian yang menyangkut:
- Siapa yang mempengaruhi keputusan untuk membeli.
- Siapa yang membuat keputusan untuk membeli.
- Siapa yang melakukan pembelian.
- Siapa pemakai produknya.
e. Pengalaman.
Berbagai informasi sebelumnya yang diperoleh seseorang yang akan mempengaruhi perilaku selanjutnya.
f. Kepribadian.
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk beringkah laku.
g. Sikap dan kepercayaan.
Sikap adalah suatu kecenderungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah yang baik ataupun kurang baik secara konsisten. Kepercayaan adalah keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai tertentu yang akan mempengaruhi perilakunya.
h. Konsep diri.
Konsep diri merupakan cara bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia mempunyai gambaran tentang diri orang lain.

Dari penulisan ini juga didapat tipe-tipe perilaku konsumen dalam pembelian produk, yakni:
Menurut Wilkie (1990), tipe perilaku konsumen dalam melakukan pembelian dikelompokkan menjadi empat berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat keterlibatan diferensiasi merek, yang dijelaskan sebagai berikut :
a. Budget Allocation (Pengalokasian budget).
b. Product Purchase or Not (Membeli produk atau tidak).
c. Store Patronage (Pemilihan tempat untuk mendapatkan produk).
d. Brand and Style Decision (Keputusan atas merek dan gaya).


Kesimpulan
Dari penjelasan diatas tersebut maka bisa ditarik kesimpulan bahwa perilaku konsumen yang dilakukan individu maupun kelompok yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang dan jasa dipengaruhi oleh beberapa faktor dan struktur itu sendiri.
Adapun juga tingkat keterlibatan diferensiasi merek juga dapat mempengaruhi seorang konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian suatu produk. Variabel pemikiran konsumen adalah faktor kognitip yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Tiga tipe variable pemikiran berperan secara esensial dalam pengambilan keputusan, antara lain persepsi karateristik merk, sikap lanjutan terhadap merk dan manfaat keinginan konsumen. Ini merupakan juga hasil akhir proses konsumen keputusan konsumen.


Sumber :
1.     http://faddlyel.blogspot.com/2010/10/faktor-yang-mempengaruhi-perilaku.html
2.    http://iyano.wordpress.com/2010/11/30/perilaku-konsumen-dalam-pengambilan-keputusan-terhadap-produk-yang-diinginkan/
3. http://pandu-wiranegara.blogspot.com/2011/03/faktor-faktor-yang- mempengaruhi.html